Kenapa Harga Barang Bisa Naik-Turun?

Pertanyaan diatas bisa dijawab dengan berbagai cara pandang dan beberapa teori. Setidaknya setelah kita mampu untuk memahaminya, selanjutnya tentu adalah bagaimana cara untuk mengantisipasi dan memberikan kemungkinan lebih besar dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga dalam skala yang lebih kecil.

persamaan yang menjelaskan pergerakan harga barang

Ada sebuah persamaan yang disebut Equation of Exchange, dimana menghubungkan 4 hal yaitu Jumlah Uang (M); Kecepatan Uang berputar (V); Harga Barang (P) dan Jumlah Barang (Q). Dimana keterhubungan 4 hal ini digambarkan sebagai berikut:

M x V = P x Q

Empat hal ini berhubungan secara linear atau searah, jika pada satu sisi misalnya sisi kiri (M x V) naik maka sisi kanan (P x Q) untuk menjaga keseimbangan–yang disimbolkan dengan tanda sama dengan pada persamaan tersebut–akan naik juga. Sebaliknya, jika satu sisi turun maka sisi lainnya juga akan turun.

Sederhananya, jika M x V itu hasilnya 10 maka P x Q juga harus 10. Jika kita asumsikan Jumlah Uang (M) yang beredar ada 10 dan Kecepatan Uang itu berputar (V) hanya 1 kali saja, maka sisi kiri bernilai = M x V = 10 x 1 = 10. Untuk menyeimbangkannya, maka sisi kanan (P x Q) harus sama dengan 10. Untuk itu, saat Jumlah Barang (Q) 10 maka Harga Barang (P) akan menjadi 1, tetapi saat Jumlah Barang (Q) menjadi 2, sehingga Harga Barang (P) akan turun menjadi 5. Sebaliknya jika Jumlah Barang (Q) turun menjadi 1/2 maka Harga Barang (P) akan naik menjadi 20.

Semakin banyak uang beredar dengan asumsi kecepatan perputaran uang tetap akan menyebabkan nilai di sisi kiri (M x V) menjadi besar. Jika, uang tadi tidak diinvestasikan pada usaha real (bisnis, dagang, dan sejenisnya) untuk menghasilkan produk/barang, maka jumlah barang akan cenderung turun dan akan menyebabkan harga menjadi naik, jadi penambahan uang yang beredar itu tadi akan membuat daya beli uang itu menjadi turun, inilah yang disebut sebagai fenomena inflasi.

Apa yang seharusnya terjadi agar harga cenderung akan tetap dan inflasi tidak terjadi? Dari persamaan itu, kita dapat menemukan beberapa solusi, yaitu:

  • Tidak perlu mencetak uang lebih banyak, tetapi kita hanya mengupayakan bagaimana caranya membuat uang yang ada berputar cepat.
  • Uang berputar cepat itu berarti menginvestasikan uang yang ada dalam sektor real berupa bisnis untuk mengadakan barang/jasa. Sehingga jumlah barang (Q) akan banyak di pasar.
  • Jika jumlah barang (Q) mencukupi bahkan melebihi kebutuhan masyarakat, maka harga barang (P) akan turun dan mencapai keseimbangan pada titik demand-supply nya.
  • Jika jumlah uang yang beredar (M) berlebih karena kegiatan produksi yang ditunjukkan dengan perputaran uang (V) menurun yang disebabkan jumlah barang (Q) berlebih, maka masyarakat akan lebih banyak mengkonsumsi barang (Q) dan membutuhkan lebih banyak lagi barang (Q) saat mulai berkurang dengan diindikasikan kenaikan harga barang (P).
  • Pada saat indikasi harga barang (P) naik, dan jumlah barang (Q) menurun maka dibutuhkan penambahan perputaran uang (V) dengan melakukan proses kegiatan produksi.

Hal ini semua adalah self-system atau sistem ekonomi yang berputar secara otomatis, dan saling mempengaruhi. Jadi, peran kita dalam menciptakan naik-turunnya harga tentu adalah perilaku investasi kita sebaiknya tidak lagi hanya menempatkan investasi pada sektor yang tidak mendukung kegiatan sektor real, sebaliknya menempatkannya pada sektor real yang mendorong kegiatan produksi barang/jasa. Jika kesadaran ini bersifat masif dan meluas berarti kita sudah berperan aktif menjaga kestabilan harga barang/jasa di pasar.