rasio keuangan keluarga

Cara Menghitung Rasio Keuangan Keluarga

Tahun baru biasanya akan diisi dengan membuat target-target baru, pencapaian keuangan baru, kondisi kesehatan baru, kondisi mental dan spiritual yang baru. Kondisi baru tersebut dicanangkan biasanya setelah anda tahu kondisi yang telah dicapai di tahun ini.

Misalnya, anda ingin memiliki peningkatan aset keluarga sebesar 50% dari aset saat ini. Berarti anda sudah mengetahui jumlah aset yang dimiliki akhir tahun ini sehingga memiliki resolusi target baru di akhir tahun depan mendapatkan penambahan sebesar angka tersebut. Jika anda belum tahu kondisi tersebut, maka anda akan mengalami kesulitan untuk mengetahui kemajuan yang dicapai.

Saat anda memutuskan untuk mencapai angka penambahan aset sebesar 50% berarti kondisi tersebut akan membuat kondisi keuangan anda semakin sehat, karena kriteria sehat keuangan tersebut bisa dicapai dengan melakukan penambahan aset sebesar angka tersebut. Maka, untuk mengetahui sehat atau tidak keuangan keluarga maka diperlukan pengukuran keuangan tertentu.

Cara Saya Mengukur Kondisi Rasio Keuangan Keluarga

Saya sendiri melakukan update dan pengukuran atas kondisi keuangan per akhir tahun, mengevaluasinya dan memutuskan target apa yang perlu saya lakukan untuk membuatnya semakin sehat. Langkah-langkah yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Mencatat seluruh aset dan nilainya
    • Saya mengelompokkan aset saya menjadi 3 golongan yaitu:
      • Aset Lancar, meliputi seluruh uang kas dan tabungan
      • Aset Investasi, yaitu seluruh deposito, tabungan emas, dinar, reksadana, obligasi, investasi lain, dan modal bisnis
      • Aset Tidak Lancar, yang meliputi rumah dan kendaraan
    • Masing-masing aset tersebut saya tulis dan dituliskan nilainya saat ini.
    • Pada bagian aset investasi, saya memisahkan nominal saat saya masuk dan nilainya saat ini, dan selisihnya adalah pendapatan investasi.
  2. Mencatat seluruh kewajiban dan nilainya
    • Biasanya disini berupa hutang
    • Saya sendiri memiliki hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang
    • Hutang jangka pendek adalah hutang yang harus saya bayarkan dalam waktu jangka waktu di bawah satu tahun, sedangkan hutang jangka panjang dengan jangka waktu di atas 1 tahun. Biasanya hutang jangka panjang ini berupa hutang pinjaman kendaraan, pinjaman KPR dan sejenisnya.
  3. Mencatat pemasukan dan pengeluaran bulanan
    • Pemasukan berupa gaji, honor, hasil investasi yang dihabiskan (tidak dijadikan pokok investasi)
    • Pengeluaran berupa zakat/infak/wakaf/donasi, asuransi, investasi rutin, biaya hidup, cicilan hutang (kartu kredit, KPR, kendaraan, KTA dan lainnya)
  4. Menghitung rasio likuiditas
    • Rasio ini saya hitung untuk tujuan mengetahui berapa lama saya bisa bertahan tanpa pemasukan–hanya mengandalkan aset lancar likuid saya–untuk menghidupi saya dan keluarga sebelum menemukan sumber pendapatan baru.
    • Caranya dengan menjumlah seluruh aset lancar dan beberapa tabungan dan investasi yang dapat segera dicairkan. Lalu, dibagi dengan jumlah pengeluaran bulanan kita.
    • Contohnya: total uang, tabungan, deposito dan beberapa akun investasi yang gampang dicairkan sebesar 30 Juta, sedangkan pengeluaran setiap bulan sebesar 6 Juta. Maka rasio likuiditas adalah 30 Juta/6 Juta yaitu 5.
    • Artinya saya dapat bertahan selama 5 bulan memenuhi kebutuhan bulanan sebelum memiliki sumber pendapatan baru.
    • Menurut ahli keuangan keluarga, rasio yang ideal adalah antara 3 hingga 6. Karena waktu ini masih cukup untuk digunakan keluarga menyusun rencana baru membenahi keuangan keluarganya.
    • Saat anda sudah mencapai rasio yang ideal, sisanya dapat anda gunakan untuk keperluan investasi dan proteksi. Dana likuid ini juga dapat digunakan sebagai dana darurat seperti menghadapi kondisi sakit, kecelakaan dan kebutuhan mendesak lainnya.
    • Dana likuid ini maksimal memiliki porsi sebesar 15% dari total aset yang dimiliki. Jika porsi jumlah dana likuid ini melebihi 15% berarti anda kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hasil pendapatan dari investasi.
  5. Menghitung rasio hutang
    • Rasio ini untuk menghitung kemampuan bayar hutang per bulannya
    • Misalnya pendapatan sebesar 1o Juta dan total hutang cicilan (rumah, kendaraan, KTA dan lainnya) sejumlah 2,9 Juta, maka rasio hutang saya terhadap pendapatan sebesar 2,9 Juta/10 Juta yaitu 29%
    • Artinya setiap bulan saya menghabiskan 29% pendapatan saya untuk membayar hutang
    • Rasio maksimal yang disarankan oleh perencana keuangan yaitu sebesar 30%, jadi anda harus menjaga cicilan hutang tidak melebihi 30%. Artinya anda tidak boleh mengambil hutang baru saat cicilan bulanan anda sudah mencapai 30%.
  6. Menghitung rasio solvensi
    • Rasio ini menghitung kemampuan anda untuk melunasi hutang dengan menggunakan aset yang dimiliki
    • Misalnya anda memiliki total aset 300 Juta, hutang anda totalnya sebesar 200 Juta maka aset bersih anda sebesar 100 Juta.
    • Rasio solvensinya adalah 100 Juta/300 Juta = 33,3%
    • Dengan menjaga nilai rasio ini di atas 50% maka anda akan semakin aman dan tidak akan terguncang saat hutang harus dilunasi segera.
  7. Menghitung rasio investasi
    • Rasio ini identik dengan istilah passive income, yaitu pendapatan yang diperoleh dengan menempatkan investasi dan menghasilkan dengan sendirinya, misalnya dari hasil bisnis yang modalnya dari anda, instrumen investasi dan lainnya.
    • Cara menghitungnya dengan membandingkan jumlah pendapatan investasi dibagi dengan kekayaan bersih anda.
    • Misalnya, dengan total aset bersih sebesar 100 Juta, ternyata setiap tahun anda mendapatkan 7 Juta dari bisnis, kenaikan harga emas, reksadana dan lainnya
    • Nilai rasio investasinya adalah 7 Juta/100 Juta yaitu 7%
    • Semakin besar angka ini, berarti anda memiliki kesempatan untuk lebih bebas tanpa bergantung kepada sumber pendapatan utama bulanan anda saat ini.
  8. Menghitung rasio aset investasi dengan total aset
    • Rasio ini menghitung jumlah aset yang diperuntukkan untuk investasi dan bisnis dibandingkan total aset, semakin besar maka kemungkinan untuk mendapatkan passive income semakin besar.
    • Misalnya, total aset investasi 30 Juta yang terdiri dari bisnis, reksadana, emas, dinar, obligasi, usaha kebun dan lainnya. Sedangkan total aset (aset lancar + aset investasi + aset tidak lancar) sebesar 300 Juta.
    • Berarti rasionya adalah 30 Juta/300 Juta = 10%.
    • Rasio yang ideal menurut perencana keuangan keluarga adalah di atas 50%, sehingga anda dapat lebih aman dan tidak tergantung pada sumber pendapatan utama anda saat ini.

Selanjutnya saya akan membandingkan rasio-rasio tersebut dengan kondisi ideal yang direkomendasikan oleh perencana keuangan atau melakukan penyesuaian dengan rasio tersebut sehingga lebih konservatif dan aman.

Target baru bidang keuangan keluarga yang saya buat tentu saja akan berpatokan dengan kondisi ideal yang telah disusun tersebut, yang akan diteruskan dengan menyusun langkah-langkah konkritnya.

Misalnya, rasio hutang keluarga saya ternyata 40%, maka target saya di tahun depan adalah menekan rasio itu mencapai 30% dengan cara melunasi hutang konsumtif saya dan/atau mencari sumber pendapatan baru yang memungkinkan. Langkah kongkrit yang mungkin bisa saya lakukan adalah:

  1. Menjual kendaraan yang dibiayai hutang, dimana kendaraan tersebut tidak banyak digunakan misalnya mobil ketiga, motor kedua dan lainnya. Hasil penjualannya digunakan untuk melunasi hutang yang ada.
  2. Mencari kesempatan part time mengajar kursus, kampus dan sejenisnya
  3. Menjalankan usaha perantara/makelar untuk action figures, perlengkapan hobi dan lainnya
  4. Tidak menambah hutang baru untuk keperluan konsumtif

Semua rasio yang dihitung tadi akan dibandingkan dengan kondisi ideal dan target yang diinginkan, dan diturunkan dengan langkah-langkah nyatanya. Sangat memungkinkan langkah-langkah tersebut akan sama, misalnya dengan menjalankan usaha baru akan membuat rasio investasi akan semakin baik.

Itu yang saya lakukan, punya komentar, pendapat dan masukan? silahkan sampaikan di kolom komentar ya 🙂 Semoga bermanfaat.

4 thoughts on “Cara Menghitung Rasio Keuangan Keluarga

  1. Wah, bagus banget nih Mas isinya & bermanfaat buat saya yg kebetulan mengambil konsentrasi financial planning di kampus. Maaf, saya bisa minta sumber tulisan / daftar pustaka nya Mas?
    Thanks in advance 🙂

    1. Terima kasih mba Widiani 🙂 mudah-mudahan bermanfaat ya. Sumber tulisan ada beberapa buku dan tulisan kolom keuangan keluarga yang populer seperti karangan Ahmad Ghozali, Safir Senduk, Prita dan masih banyak lagi. Saya hanya mengkompilasi dan menerapkannya saja 😉

      1. Ya Mas sama-sama. Oh begitu.. Saya bisa minta daftar pustakanya Mas, untuk keperluan skripsi saya. Trims 🙂

      2. Ya Mas sama-sama. Oh begitu.. Saya bisa minta daftar pustakanya Mas, untuk keperluan skripsi saya. Semoga gak merepotkan. Thanks 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *